harta benda hanya titipan allah

HARTABENDA DI DUNIA HANYA TITIPAN ALLAH SWT. Dalam dunia ini semuanya hanya bersifat sementara. Memang nikmat bentuk dan rasanya tiap harta yang kita Sebab harta merupakan titipan yang nantinya akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Misalnya dengan bersedekah, memberikan makanan dan minuman kepada orang yang membutuhkan. Dengan begitu, harta yang kita miliki akan selalu diberkahi oleh Allah SWT. Seperti yang diketahui bahwa harta tidak akan berkurang jika digunakan untuk beramal. LantasAl Qurtubhi menutup penjelasan ayat tersebut, "Adapun orang-orang yang beriman dan beramal sholih di antara kalian, lalu mereka menginfakkan harta mereka di jalan Allah, bagi mereka balasan yang besar yaitu SURGA." (Tafsir Al Qurthubi, 17/238) Intinya maksud Al Qurthubi, harta hanyalah titipan ilahi. Namun Islam juga menempatkan kalau harta yang dimiliki sebagai ujian, karena pada hakikatnya harta benda yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah SWT. Allah SWT berfirman: "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Padahakikatnya, harta yang kita miliki bukanlah harta kita, tetapi itu semua adalah titipan dari Allah SWT. Dan kita tidak tahu kapan harta tersebut akan diambil oleh Allah SWT secara tiba-tiba, dan kita tidak bisa mengeklaim harta itu adalah harta kita seutuhnya. Site De Rencontre Gratuit Dans Le 60. Harta dan Takhta Hanya Titipan Tuhan Renungan Hari Minggu, 24 Agustus 2020 — Bacaan I Yes. 2219-23; Bacaan II Rm. 1133-36 Baca JugaMengakui dan Memiliki Dia – Renungan PW. St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari NazianzeBersujud dan Memuji Tuhan – Renungan Hari Biasa Khusus AdvenBerita Sukacita – Renungan Hari Biasa Khusus Adven Kadang kita terjebak untuk besar kepala dan tinggi hati. Kita merasa diri hebat dan seperti tidak ada lagi orang lain yang sehebat kita. Kita merasa seperti orang yang tak akan pernah tergantikan. Hanya kita yang bisa, orang lain tidak. Padahal, kita tak sepantasnya bersikap begitu. Bacaan pertama hari ini mengingatkan kita bahwa segala rezeki, jabatan atau posisi, yang kita miliki saat ini, semuanya hanyalah titipan Tuhan. mengapa? Paulus memberi alasan, katanya “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” Rm. 1136. Di sini kita diajarkan untuk tidak menjadi sombong jika mempunyai kekayaan yang banyak atau duduk pada jabatan yang tinggi, sebab itu semua semata-mata titipan dari Tuhan. Jika Tuhan yang menitipkannya kepada kita menarik kembali semuanya itu dari kita, maka terjadilah seperti yang dikehendaki-Nya. Lihat saja pengalaman Sebna dalam bacaan pertama hari ini. Tuhan menurunkannya dari jabatannya dan memberikan jabatannya itu kepada orang lain, yaitu kepada Elyakim. Tuhan berfirman kepadanya “Aku akan melemparkan engkau dari jabatanmu, dan dari pangkatmu engkau akan dijatuhkan. Maka pada waktu itu Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia Aku akan mengenakan jubahmu kepadanya dan ikat pinggangmu akan Kuikatkan kepadanya, dan kekuasaanmu akan Kuberikan ke tangannya; maka ia akan menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda” Yes. 2219-21. Di sini kita bisa melihat bahwa Tuhan berkuasa penuh atas hidup manusia. Jalan hidup kita bukan kita sendiri yang atur, tapi Tuhan yang atur. Tidak ada orang yang bisa menyogok Tuhan untuk bisa mengubah keputusan-Nya. Sebab, kata Paulus, “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Rm. 1134. Jika titipan Tuhan yang kita terima tidak kita jalankan dengan baik, maka bukan tidak mungkin Tuhan akan menariknya kembali dari kita dan memberikannya kepada orang lain. Jadi, pelajaran berharga yang kita petik hari ini adalah bahwa apapun jabatan kita, sebanyak apapun harta yang kita dapatkan, jangan sombong. Itu semua hanya titipan. Semua bisa berubah kalau Tuhan mau. Tidak ada yang bisa mengetahui pikiran Tuhan. Jufri Kano, CICMTerlahir sebagai 'anak pantai', tapi memilih - bukan menjadi penjala ikan - melainkan 'penjala manusia' karena bermimpi mengubah wajah dunia menjadi wajah Kristus. Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta & Maryhill School of Theology, Manila - Philippines. Moto tahbisan "Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga" Luk. 55. Penulis dapat dihubungi via email jufri_kano - sinonim padanan kata harta benda keduniaan, emas perak, memperkaya, khazanah, mal Browse A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z Nasehat Dhuha Jumat, 19 Februari 2021 52 Hari Menuju Ramadhan 1442 H Oleh Ust Sarwo Edy, ME Klikbmi, Tangerang – Apa yang kita pikirkan jika mendengar kata titipan? Yang pastinya kita akan membayangkan sesuatu yang diamanahkan untuk dipertanggung jawabkan dan kadang itu juga sebagai ujian. Sama halnya dengan harta yang Allah berikan dan anugerahkan kepada setiap manusia. Itu merupakan titipan yang akan dipertanggung jawabkan dan sekaligus merupakan sebuah ujian. Layaknya sebuah bos perusahaan yang memberikan sejumlah uang kepada karyawannya untuk keperluan sebuah acara. Jika acara itu sudah selesai, maka secara tidak langsung karyawan yang “dititipkan” sejumlah uang oleh bos itu akan melaporkan untuk apa uang itu digunakan. Dan bagaimana jika uang itu digunakan tidak sesuai dengan keperluan acara tersebut? Yang pastinya bos akan kecewa bahkan bisa memarahi karyawan tersebut dan sekaligus memberi sanksi kepada yang bersangkutan. Sama halnya manusia yang Allah titipkan sejumlah harta selama hidupnya. Jika hidupnya sudah selesai. Maka mau tidak mau mereka harus melaporkan untuk apa harta yang selama ini Allah “titipkan” kepada mereka. Inilah yang dinamakan konsep harta menurut islam. Sangat berbeda dengan konsep harta menurut pandangan konvensional yang mana harta merupakan milkut-tammilik sepenuhnya setiap insan yang memilikinya dan harta merupakan alat utilitas pemuas kehidupan dan bukan sebagai alat wasilah penghambaan kepada Allah. yang mendasari konsep ini adalah dalil yang terdapat di dalam surat Al-Baqarah ayat 284 yang berbunyi لِله مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الۡاَرۡضِ‌ؕ وَاِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡهُ يُحَاسِبۡكُمۡ بِهِ اللّٰهُ‌ؕ فَيَـغۡفِرُ لِمَنۡ يَّشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنۡ يَّشَآءُ‌ ؕ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya tentang perbuatan itu bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengadzab siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha kuasa atas segala sesuatu. Ada salah satu hal yang sangat dianjurkan oleh Allah untuk apa digunakan harta yang Allah titipkan itu. Hal tersebut termaktub di surat Al-Hadid ayat 7 اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَنْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِ ۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَنْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌ Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah di jalan Allah sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya amanah. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan hartanya di jalan Allah memperoleh pahala yang besar. Dari dua ayat di atas dijelaskan bahwa Allah lah pemilik dari semua harta yang ada di bumi ini dan manusia diamanahkan untuk menggunakannya dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Jika kita diberi “harta” yang sedikit, Allah ingin kita tidak terlalu pusing untuk melaporkan “titipan” itu. Dan jika kita diberi “harta” yang banyak, Allah ingin kita membantu orang lebih banyak. Jangan terlalu dibanggakan dan jangan mengeluh. Karena harta hanyalah titipan dan ujian untuk menguji siapa yang lalai dan yang tidak lalai untuk beribadah kepada Allah. Rekening ZISWAF KOPSYAH BMI 7 2003 2017 1 BNI Syariah a/n Benteng Mikro Indonesia. Sularto/Klikbmi ZISWAF KOPSYAH BMI Oleh Emil Furqoni Muttaqin Harta menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI memiliki arti barang milik seseorang yang menjadi kekayaan baik berupa uang atau yang lainnya. Ditinjau dari Bahasa Arab, kata harta berarti المال al-māl atau dalam bentuk jamaknya adalah الاموال al-amwāl yang secara bahasa berarti condong, miring dan juga berpaling. Terkadang al-māl diartikan sebagai emas dan perak. Menurut Yūsuf al-Qaradāwī, yang dimaksud dengan harta adalah segala sesuatu yang sangat diinginkan oleh manusia atas menyimpan dan memilikinya. Harta itu pada mulanya berarti emas dan perak, tetapi kemudian berubah pengertiannya menjadi barang yang disimpan dan dimiliki. Sedangkan Mustafā Zarqā’ memberikan definisi yang lebih legkap, bahwa harta adalah sesuatu konkret bersifat material yang mempunyai nilai dalam pandangan manusia. Ulama madzhab Hanafi memberikan pengertian yang lebih rinci yaitu harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan digunakan menurut kebiasaan, seperti tanah, binatang, barang-barang perlengkapan dan uang. Berdasarkan beberapa pendapat ulama yang telah disebutkan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian harta secara istilah adalah segala sesuatu yang dimiliki berupa material dan dapat digunakan dalam menunjang kehidupan, seperti tempat tinggal, kendaraan, barang barang perlengakapan, emas, perak, tanah binatang, bahkan perupa uang, atau sesuatu yang memiliki nilai dalam pandangan manusia. Kedudukan Harta Menurut Islam Kata māl dalam Al-qur’an dengan berbagai bentuk derivasinya terulang sebanyak 86 kali. Dalam bentuk mufrod sebanyak 25 kali. M. Quraish Shihab memberikan rincian yang jelas. Pertama, harta dalam arti tidak dinisbatkan pada pemiliknya ditemukan sebanyak 23 kali. Kedua, arti harta yang dinisbatkan kepada pemiliknya, seperti “harta mereka”, “harta kamu” dan lain lain, ditemulan sebanyak 54 kali. Dari jumlah tersebut, harta yang paling banyak dibicarakan adalah dalam bentuk objek dan hal tersebut memberikan kesan menurut M. Quraish Shihab, bahwa seharusnya harta menjadi objek kegiatan manusia. Pemilik mutlak harta adalah Allah SWT, Ungkapan “Mulkussamaawati wal ardl” yang tersebar di berbagai surah, seluruhnya memberikan informasi dan ketegasan bahwa pemilik mutlak atas apa yang ada di alam semesta ini adalah Allah SWT. Ayat yang menerangkan kepemilikan Allah atas alam semesta ini adalah QS Ali Imran / 3 109 yang berarti “Dan milik Allah-Lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan”. Ayat lain yang menjelaskan kepemilikan Allah SWT adalah QS Tāhā /20 6 yang artinya “Kepunyaan-Nya-Lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada di antara keduanya dan semua yang ada di bawah tanah” Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa semua adalah milik Allah SWT, berada dalam genggama kekuasaan-Nya, dan berada dalam pengaturan-Nya, kehendak dan keinginan serta hukum-Nya. Dialah yang menciptakan semuanya, yang Memilikinya, dan yang menjadi Tuhannya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan Dari Zubair bin Awam ia berkata, Rasulullah SAW bersabda “Negara adalah milik Allah, hamba semua manusia juga milik Allah di mana saja engkau mendapatkan kebaikan maka tegakkanlah bermukimlah”. Hadits tersebut memberikan pengertian bahwa kepemilikan Allah tidak terbatas oleh apapun baik berupa negara atau bangsa. Manusia bisa saling berinteraksi dalam segala hal di manapun dan dengan siapapun. Ajaran Islam menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk milik Allah SWT, seluruhnya mempunyai kewajiban untuk menyembah Allah SWT. Status harta dalam Islam menempati lima hal berikut Harta Sebagai Titipan dan Amanah Al-Qur’an secara mendasar telah menjelaskan bahwa harta merupakan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia dan tidak boleh digunakan seenaknya. Sekalipun harta merupakan milik dan ciptaan Allah SWT, namun Allah SWT memberi mandat dan kekuasaan kepada manusia untuk memanfaatkannya sebagai titipan sekaligus amanah untuk mendistribusikan kepada orang yang berhak. Dalam surah Al-Hadīd/57 7 Allah SWT berfirman, yang artinya “Berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah di jalan Allah sebagian harta yang telah Dia menjadikan kamu sebagai penguasanya amanah. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan hartanya di jalan Allah memperoleh pahala yang besar”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa sesungguhnya harta yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari Allah yang dapat bertambah atau berkurang kapan saja. Namun Allah memberi solusi agar harta titipan tersebut dapat kekal dimiliki, yaitu dengan cara membelanjakan harta titipan tersebut untuk zakat, infaq atau sedekah. Harta sebagai Sarana Kesejahteraan Kebanyakan orang masih berfikir bahwa harta adalah kunci dari kebahagiaan. Namun kenyataannya tidak semua kebahagiaan dapat dibeli dengan harta. Memang diakui bahwa harta kekayaan merupakan salah satu komponen yang berperan penting dalam mewujudkan suatu kesejahteraan. Islam tidak melarang umatnya untuk mencari harta kekayaan, apalagi dengan niatan untuk ibadah. Tetapi, Islam melarang umatnya terlalu terobsesi dengan harta sehingga melupakan urusan akhirat. Allah memerintahkan manusia dalam surah Al-Ankabut/29 17 yang artinya “Carilah atau usahakanlah rezeki yang ada pada Allah Sesuai dengan kemampuanmu, Tetapi ingat, setelah rezeki itu kamu peroleh. Sembahlah Allah dan Bersyukur kepada-Nya” Harta sebagai Perhiasan Hidup Allah SWT berfirman dalam surah Āli Imrān/3 14 yang artinya “Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik surga”. Bermacam-macam nikmat yang dijelaskan oleh ayat di atas adalah keindahan yang dirasakan ketika hidup di dunia. Manusia yang terlena atas keindahan tersebut dan melupakan Allah akan terjerumus dan tidak mendapatkan surga. Harta sebagai Fitnah Ujian Keimanan Harta bukanlah sesuatu yang buruk dan harus diihindari sebagaimana anggapan beberapa orang. Banyaknya harta juga tidak dapat digunakan sebagai acuan tingkat keimanan, kesalehan atau ketaqwaan. Akan tetapi, harta merupakan nikmat dari Allah yang dengannya manusia diberi cobaan, apakah bersyukur atau malah kufur. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Anfāl/828 yang artinya “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan. Dan sungguh, disisi Allah pahala yang besar” Az-Zuhailī memberikan makna fitnah itu dalam tiga dampak yang akan dimunculkan; 1 dapat mendorong orang untuk berbuat haram sesuatu yang haram, 2 enggan menunaikan hak-hak Allah dan 3 dapat melakukan perbuatan tercela dan dosa. Harta sebagai Sarana Ibadah Harta yang digunakan sebagai sarana ibadah adalah harta yang dibelanjakan Fīsabīlillāh. Terdapat dua makna dalam Fīsabīlillāh. Pertama, makna umum artinya “Jalan Tuhan” seperti infaq untuk masjid dan shodaqoh untuk tolong menolong. Kedua, menurut Nabi Fīsabīlillāh memiliki makna khusus, yaitu dalam konteks zakat. Perintah wajibnya mengeluarkan zakat atas kekayaan seorang muslim kepada orang yang berhak menerima ditegaskan dalam surah at-taubah/9 103 yang artinya ”Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyusikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesunggunya doamu itu menumbuhkan ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. Cara Menggunakan Harta Memakan Harta dengan Cara yang Halal dan Baik Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah/2 168 yang artinya “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkai syaitan; Karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. Menurut Muhammad Abdul Mannan, ayat tersebut tidak hanya berbicara mengenai pedoman pembelanjaan harta, melainkan juga mengenai mencari rezeki halal dan tidak melanggar hukum. Jangan Berlebihan Islam membolehkan umatnya menikmati kebaikan duniawi selam tidak melewati batas-batas kewajaran. Apapun itu, jika melebihi batas kewajaran maka dilarang oleh Islam. Larangan berlebihan memiliki alasan yang kuat, salah satunya berlebihan dalam makanan dapat mempengaruhi kesehatan dan mengurangi kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaan. Allah berfirman dalam surah Al-A’raf/7 31 yang artinya “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makan dan minumlah tetapi jangan berlebihan; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan.” Bersyukur Allah SWT berfirman dalam surah Ibrahim/14 7 yang artinya “Dan Ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat pedih”. Syukur adalah bagian penting dalam penggunaan harta. Dalam ayat tersebut syukur yang dimaksud bukan sekedar ungkapan hati maupun ucapan lidah, akan tetapi syukur yang dimanifestasikan dengan perbuatan. Orang yang senantiasa bersyukur atas harta yang diberikan Allah kepadanya akan diberikan ketenangan jiwa dan tidak mudah sibuk mengejar dunia. Harta adalah nikmat yang dititipkan Allah kepada manusia yang dapat menjadi sarana untuk meraih Ridho Allah. Di sisi lain, harta dapat menjadi bumerang yang akan menghancurkan pemiliknya jika tidak dimanfaatkan sesuai tuntunan Allah. Oleh karena itu, umat Islam harus selalu berpegang pada petunuk Al-Qur’an, karena dengan Kalamullah tersebut manusia dapat mencapai ridlo-Nya. Kajian mengenai harta tersebut seharusnya masih bisa dikembangkan menjadi lebih terperinci, karena masih banyak sumber hukum Islam yang belum tercantum dalam kajian tersebut. Memiliki harta atau kekayaan mugkin menjadi impian dari sebagian bahkan kebanyakan orang. Setiap orang berlomba-lomba untuk mendapatkan harta yang ‎berlimpah, tetapi sedikit dari kita yang memikirkan untuk mendapatkan harta yang ‎berkah. Memiliki banyak harta terkadang membuat manusia hidup berfoya-foya, yang mungkin mereka lakukan untuk menunjukkan bukti eksistensi bahwa mereka adalah bagian dari kaum berada. Bisa memenuhi semua hasrat dan keinginan terpendam dari segala sesuatu yang mereka inginkan. Dengan harta, sebagian orang memiliki harapan agar bisa terus berbuat baik kepada sesama. Terutama berbuat baik untuk lingkungan sekitar. Namun pada kenyataannya, banyak orang-orang kaya yang merasa kaya dan merasa harta itu miliknya. Tanpa menyadari bahwa itu semua adalah titipan Allah semata. Harta Sebagai Titipan Allah Konsep harta sebagai titipan, berarti harta tersebut sifat nya adalah sementara. Ketika harta bersifat sementara berarti akan ada pemilik yang mengambilnya.. Dan ketika pemilik mengambil harta tersebut tidak ada kuasa bagi orang yang dititipi untuk mempertahankannya. Karena harta tersebut hanya titipan semata. Dan akan menjadi aneh jika orang yang dititipi marah-marah ketika sang pemilik mengambilnya. Sehingga rumus titipan yang sebenarnya adalah ketika dititipkan maka harus siap di ambil. Dan akan menjadi lebih baik ketika titipan di ambil dalam kualitas yang menyenangkan pemiliknya. Lantas bagaimanakah kita menyikapi harta yang hanya titipan dari Allah, dan yang paling berbahaya adalah ketika seseorang sudah merasa bahwa titipan itu adalah bagian dari kepemilikannya. Ketika seseorang sudah merasa demikian, maka itu akan berdampak pada ketidaktenangan dalam kehidupannya,. Karena orang yang merasa memiliki tidak siap Ketika yang di titipkan di ambil pemiliknya. Sebagai contoh, dikisahkan ada seorang sahabat akan berjuang tapi anaknya dalam keadaan sakit. Kemudian ketika akan berangkat berjiihad dia ragu karena ingin merawat anaknya. Lalu istrinya berkata “Wahai suamiku pergilah, biarkan saya yang merawat anak kita”. Akhirnya berangkatlah sang suami untuk berjihad. Singkat cerita ketika dia sedang berjihad anaknya meninggal. Ketika pulang dari berjihad sang suami bertanya kepada sang istri, “Bagaimana keadaan anak kita”. Sang istri menjawab “Wahai suamiku, istirahat lah terlebih dahulu. Anak kita sedang istirahat dengan tenang”. Tak Boleh Merasa Memiliki Mendengar jawaban sang istri, sang suami pun membersihkan dirinya dan memakan hidangan yang telah disiapkan sang istri. Kemudian ketika malam tiba, sang suami bertanya kembali kepada sang istri, “Bagaimana anak kita?”. Sang istri berkata,” Suamiku, saya ada satu persoalan, saya melihat ada orang yang mendapatkan titipan. Kemudian tibalah sang pemilik untuk mengambilnya, tapi orang itu marah-marah untuk mempertahankan barang yang di titipkan itu”. Sang suami memotong pembicaraan sang istri dan berkata,”Siapa orang itu ? Tidak punya adab, tidak sopan, itukan bukan milik dia, kenapa harus marah-marah”. Akhirnya sang istri berkata kepada sang suami,” Wahai suamiku, pemilik anak kita sudah menggambil dia, dan selesailah tugas kita atas apa yang dititipkan kepada kita”. Maka seketika itu juga mengalir air mata sang suami sembari meminta kebaikan kepada Allah SWT dan lantas memeluk istrinya dan menguatkan pasangan hidupnya itu. Dari kisah di atas, kita dapat mengambil pelajaran bahwa jika setiap manusia sadar bahwa segala sesuatu yang di hadapannya adalah titipan, maka sejatinya mudah bagi kita untuk melepaskannya saat tugas nya sudah selesai. Yang pertama yang wajib kita tau adalah kita harus memahami bahwa segala yang ada di hidup ini adalah titipan dan sifatnya sementara. Jika kita paham akan hal itu maka hidup kita akan lebih ringan dan nyaman. Menyadari bahwa segala yang kita punya adalah titipan, dapat kita pelajari dari kegiatan tukang parkir yang tidak marah ketika motor ataupun mobil yang dititipkan kepadanya di ambil Kembali oleh pemiliknya. Maka dari itu, yang perlu kita lakukan adalah bersyukur dan merawat titipan Allah. Serta menjaganya. Karena Allah berfirman “لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ “, bahwasanya jika kita bisa bersyukur, maka sungguh Allah akan tambah nikmat kepada kita. Penyunting M. BukharI Muslim

harta benda hanya titipan allah